Minggu, 11 Oktober 2015

Review The City of Ember

Judul     : The City of Ember
Penulis  : Jeanne DuPrau
Penerbit :Mizan Fantasi (Versi Terjemahan)

Awal Oktober menyelesaikan novel berjudul The City Of Ember sangat menyenangkan. Mengawali bulan dengan membaca buku fiksi bergenre petualangan sangat memberikan moodboost yang baik. Mungkin banyak yang tidak asing lagi dengan judul buku ini. Iya, versi movienya sudah ada dan aku sudah menontonnya. Bukan hanya ceritanya bagus, tapi pemeran tokoh Lina di mainkan oleh salah satu aktris favoritku, Saoirse Ranon.
(Sumber: mbah google)
Meskipun sudah tau ceritanya dari film, tapi membaca dari novelnya pasti memberikan kita cerita-cerita yang mungkin tidak diambil bagian pada pembuatan filmnya. Novel dengan halaman sebanyak 311 harusnya bisa menghabiskan waktu 3 hari, tetapi terkendala dengan tugas kuliah dan masalah-masalah kehidupan (wkwkwk) akhirnya novel bisa terselesaikan dalam waktu 12 hari (feel sorry for myself to wasting time).
Sinopsis Singkat (Sisi):
Bercerita tentang kehidupan manusia di bawah tanah selama sekian ratus tahun, Lina menemukan kotak misterius di rumahnya. Kotak yang berisi selembar instruksi yang memberikan harapan bagi Lina untuk mewujudkan mimpi-mimpinya akan dunia yang lebih indah daripada kota Ember. Banyak kejadian-kejadian yang mengindikasikan bahwa kota Ember tidaklah layak lagi untuk dihuni. Pemadaman lampu yang menyelimuti kota Ember dengan Kegelapan, pasokan makanan yang mulai menipis bahkan beberapa jenis makanan tidak lagi bisa ditemui dan beberapa kekacauan yang di sebabkan oleh Walikota yang rakus. Bersama sang sahabat, Doon, Lina berusaha memecahkan teka-teki tersebut.  
Perspective (Persi):
Novel karangan Jeanne DuPrau telah menuai prestasi, seperti:
Nominasi:West Virginia Children's Book Master List 2005Colorado Blue Spruce Young Adult Book Award 2005Illinois Rebecca Caudil Young Readers Award 2006Iowa Teen Book Award 2006Pemenang:Arkansas Charlie May Simon Award 2005Kansas Wiliam White Award 2006Kentucky Bluegrass Master List 2006California Young Reader MedalNew Jersey Garden State Children's Book AwardNew Hamspire Great Stone Face Children's Book AwardConnecticut Nutmeg Children's Book AwardALA Notable Children's Book 2004Florida Sunshine State Book Award 2004Texas Lone Star Reading List 2004

Tidak mustahil novel ini mendapat begitu banyak prestasi karena cerita petualangan menemukan dunia baru ini sangat bagus dan aku suka. Untaian kata-kata yang diolah Jeanne DuPrau sangat mampu membangun imaginasi. Deskripsi yang diberikan sangat detail namun ringan untuk dicerna. Jeanne seolah mengajarkan kita bahwa hidup ini penuh dengan teka-teki dan kita punya dua pilihan mengabaikannya atau memecahkannya? Di setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing. Saat kita memilih untuk memecahkan teka-teki maka kita harus siap atas apapun rintangan-rintangan yang sedang menghadang. 
Jalinan komunikasi antara anak-anak dan dewasa seringkali mendapat kendala. orang dewasa sering kali menuding bahwa anak-anak sering melakukan tindakan konyol dan bodoh serta mereka (anak-anak) sulit diajak bicara. Tetapi terkadang kesalahan malah terjadi pada orang dewasa, setiap perkataan anak sering kali dikaitkan dengan imaginasi sehingga orang dewasa cenderung meremehkan dan mentertawakan. Itulah salah satu kendala yang dihadapi Lina dan Doon.
Jika dipikirkan dengan logika, alangkah bodohnya misi menyelamatan manusia terletak pada tangan-tangan anak-anak. Tetapi itulah yang terjadi, siapa saja mungkin menjadi pahlawan tanpa terkecuali anak-anak. Lina dan Doon sangat kebingungan atas tindakan apa yang paling tepat mereka lakukan. Apakah langsung memberitahu warga atas penemuan jalan keluar dari kota Ember atau tidak? Apakah mereka akan percaya atau tidak? 
Menurutku, dalam novel ini tidak sekedar hanya bualan semata untuk menyenangkan anak-anak. Ada poin penting yang berkaitan dengan kehidupan nyata kita. Yup, poin itu aku dapat dari sosok Walikota. Disaat kota Ember menghadapi pasokan kebutuhan yang mulai menipis, Walikota menggunakan sebuah ruangan untuk menimbun barang-barang untuk dirinya sendiri. Walikota berdalih bahwa apapun yang ia lakukan semata-mata untuk kepentingan warga Ember. Tapi Lina dan Doon menemukan fakta yang berbeda, yang membuat mereka dikejar bagai buronan. Bisa jadi hal tersebut terjadi di dunia nyata kita.
Sampai pada bagian favoritku. Langit biru, hijaunya rerumputan dan hangatnya sinar matahari begitu asing bagi warga ember. 220 tahun hidup di bawah tanah. Saat menyelesaikan novel ini, aku merasa sangat bahagia karena aku melihat langit berwarna biru bukan langit hitam penuh lampu, aku bisa melihat rumput dan pepohonan serta merasa begitu bahagia diterpa hangatnya matahari (tapi jangan siang hari pasti gosong itu badan). 

Point of The Book (Pobo):
Page 31
Lina mengangguk. "Aku selalu bergerak cepat," ujarnya.
Lina merasa kuat, cepat, dan cekatan. Dia memandangi bayangannya sendiri selagi berlari melewati sebuah jendela toko perbaikan mebel. Dia menyukai tampilan rambut panjangnya yang menjuntai ke belakang, kakinya yang panjang dalam balutan kaus kaki hitam, dan kibaran jaket merahnya. Wajahnya, yang tak pernah terlihat luar biasa, nyaris tampak cantik karena dia  terlihat begitu senang.
Page 33-34
Bagian terasyik dari menjadi seorang pengantar pesan bukan terletak pada pesan-pesannya, tetapi pada tempat-tempat bisa didatangi Lina. Dia bisa masuk ke rumah orang-orang yang tak dikenalnya, serta lorong-lorong kecil tersembunyi dan ruangan kecil di bagian belakang toko. Hanya dalam beberapa jam saja, dia telah menemukan berbagai hal aneh dan juga menarik.
Page 36
Pertemuan, dan tiang-tiang gendut membingkai pintunya yang besar. Kantor Walikota terletak di Balai Pertemuan. Begitu pula dengan kantor-kantor para pegawai yang mencatat bangunan mana yang jendela-jendelanya rusak, lampu-lampu jalan mana yang perlu diperbaiki, dan berapa jumlah warga kota saat ini. Ada kantor khusus penjaga waktu, yang bertanggung jawab terhadap jam kota.
Page 77
... Apa yang menggerakkan kehidupan, entah bagaimana, terletak di dalam diri mereka sendiri."...
Page 149
Apa yang akan digambarnya? Memegang pensil seperti membuka keran di dalam pikirannya yang membuat imajinasinya mengalir. Lina bisa merasakan gambar-gambar itu siap keluar. Rasanya semacam tekanan, seperti air di dalam pipa. Dia selalu berpikir ingin menggambar sesuatu yang indah, tapi yang digambarnya tak pernah sesuai dengan yang dirasakannya. Rasanya seperti ketika dia mencoba menceritakan sebuah mimpi - kata-kata tak pernah benar-benar menangkap rasa yang ditimbulkan mimpi itu.
Page 185
"Ada begitu banyak kegelapan di Kota Ember, Lina. Bukan cuma di luar, di dalam diri kita juga. Setiap orang memiliki sisi gelap di dalam dirinya. Seperti makhluk kelaparan. Selalu menginginkan sesuatu dengan kekuatan yang mengerikan. Dan semakin kau memberikan peluang, kekuatan itu semakin besar dan lapar."

(Type: Literasi Helvetica Books)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar