Kamis, 25 Februari 2016

Review Novel pencarian Jati Diri: Paper Towns

Paper towns
-john Green-

The way figure it, everyone gets a miracle!
(Kindness- Swinging Party : play on)

Wakakka, ngikut ala-ala Quentin di awal cerita yang membawakan narasi tunggalnya. Selamat bulan Februari yang katanya bulan cinta. Sorry banget ni (meminta maaf pada diri sendiri karena tidak bisa disiplin dalam menulis) karena bulan ini ikut project dosen dan lagi giat-giatnya ngerjakan tesis, maka review-pun tak kunjung ditulis.
            Meskipun aku tidak merayakan yang namanya “Valentine”, tapi tema bacaanku aku sesuaikan dengan ada tema cinta-cintanya gitu. Sebenarnya tema yang beginian bukanlah genre favoritku, koleksinya pun bisa dihitung pake jari. Tapi nggak papa juga sekali-kali dech, selain memvariasikan bacaanku juga bisa menambah warna dan genre di rak buku (yang sebenarnya nggak ada raknya,heeeee).
            Paper towns ini sudah ada versi filmnya dan yang main aktris/ model dan actor favoritku. Cara Delevigne sebagai Margo Roth Spiegelman dan Quentin diperankan oleh Nat Wolff (waaaaaaaaaaaaa). Meskipun sudah tau gimana ceritanya, tapi aku tetap saja penasaran dan ingin membaca novelnya. Dan aku dapat novelnya yang ber-cover versi filmnya oleh Twentieth Century Fox. Look!!! 



Review kali ini aku buat dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan diskusi pada novel Paper Towns versi English yang bisa di download gratis. Yupz, gila yach, nonton filmnya udah, baca novel versi English yang gratis juga udah, tapi kok tetep ngotot beli yang versi Indonesia. Sudahlah… jadi ada 27 pertanyaan yang bisa diskusikan dengan teman yang bisa membuat kita memahami secara mendalam novel ini. Berhubung nggak ada teman diskusi jadilah cuma enam pertanyaan yang akan aku bahas di sini.

Question no. 8: Do you think Margo wants to be found? Do you think Margo wants to be found by Q?
Menurutku Margo tidak ingin ditemukan termasuk oleh Q. pertanyaan ini bisa dijawab oleh reaksi Margo saat melihat Q bersama teman-temannya menemuinya. Margo sangat terkejut dengan apa yang membawa Q ke sana.
Halaman 325: “…. Kurasa mungkin kita harus mulai dari, apa sebenarnya yang kalian lakukan di sini? à Margo
Halaman 328: “Ku pikir kau ingin kami menemukanmu.” à Q
                        “Jelas sekali aku tidak ingin itu.” à M

Question no. 21: Which philosophy of life do you most agree with: Margo’s Strings? Whitman’s Grass? Or Q’s Cracked Vessel? Why?
Di bagian-bagian akhir saat Margo dan Q berbicara berdua mereka mendiskusikan tentang bagaimana filosofi berkaitan dengan mereka masing-masinng.
Margo’s String:
Halaman 346: kalau kau memilih senar, artinya kau membayangkan dunia di mana kau bisa pecah tanpa dapat diperbaiki lagi. Tapi senar membuat penderitaan tampak lebih fatal daripada yang sebenarnya, menurutku. Kita tidak serapuh senar.
Whitman’s Grass:
Halaman 347: kalau kau memilih rerumputan, kau mengatakan kita semua terhubung, bahwa kita bisa memanfaatkan sistem akar itu bukan hanya untuk memahami satu sama lain tapi juga menjadi satu sama lain.
Tapi kita bukan tunas yang berbeda dari tumbuhan yang sama. Aku tidak bisa menjadi kau. Kau tidak bisa menjadi aku. Kau bisa membayangkan orang lain dengan baik – tapi tidak pernah dengan sempurna.
Q’s Creacked Vessel:
Halaman 347:
Seolah, kita semua berawal sebagai wadah kedap air. Dan hal-hal ini terjadi – orang-orang ini meninggalkan kita, atau tidak menyanyangi kita, atau tidak memahami kita, atau kita tidak memahami mereka, dan kita kalah, gagal, dan saling menyakiti. Dan wadah itu mulai retak di beberapa tempat. Dan baru pada saat itulah kita bisa melihat satu sama lain, karena kita memandang ke luar diri kita lewat retakan-retakan kita dan menatap orang lain melalui retakan-retakan mereka.
Aku menyukai ketiganya, sangat diriku. Maaf aku tidak bisa memilih

Question no. 18: Q’s parents describe people as “mirrors” and “windows”. What does this mean? Do you agree with this metaphor?
Halaman 232: “Semuanya masih mungkin”, kataku. Satu Margo lagi masing-masing kami – dan masing-masing hanyalah cermin bukannya jendela.
Kembali ke beberapa halaman.
Halaman 228-229:
Oleh Ayahnya Q: …,”semakin aku menyadari bahwa manusia kekurangan cermin yang bagus. Sangat sulit bagi siapa pun untuk menunjukkan kepada kita bagaimana penampilan kita, dan sangat susah bagi kita untuk menunjukkan kepada siapa pun apa yang kita rasakan.” à menjelaskan tentang jendala
Oleh Ibunya Q: … Kita mengidealisasikan mereka sebagai dewa atau mengaggap mereka sebagai binatang.” à menjelaskan tentang mirror/cermin
Oleh Q sendiri: selama ini – bukan hanya sejak dia pergi, tapi dalam kurun waktu satu decade sebelumnya – aku membayangkan dia tanpa mendengarkan tanpa mengetahui bahwa dia adalah jendela yang buruk sama seperti aku.
Kesimpulannya: mirror/cermin menggambarkan bagaimana diri kita atau orang lain adalah refleksi dari apa yang kita atau orang lain pikirkan. Jendela adalah diri kita yang sebenarnya, bahwa kita harus melihatnya ke dalam untuk tau siapa diri kita sebenarnya.
Question no. 19: Q comes to this conclusion: “Margo was not a miracle. She was not an adventure. She was not a fine and precious thing. She was a girl”. Discuss.
Berkaitan dengan jawaban pertanyaan no 18 bahwa Quentin disadarkan oleh percakapan ayah dan ibu Q tentang cermin dan jendela. Selama ini Q menganggap bahwa Marga pantas menjadi sebuah keajaiban dalam hidupnya. Semua itu hasil dari pikiran dan keyakinan yang dibentuk Q untuk Margo yang sebenarnya bahwa Margo tidak jauh berbeda dengan Q. Manusia biasa yang punya masalah seperti layaknya Q dan orang lain. “Margo was not a miracle. She was not an adventure. She was not a fine and precious thing. She was a girl”. Kata-kata ini muncul dibagian tengah novel yang berbeda dari versi film yang muncul diakhir cerita saat Q memutuskan untuk meninggalkan Margo dan pergi ke Prom untuk menemui teman-temannya. Aku lebih menyukai versi filmnya untuk satu adegan ini, sangat dramatis.
Question no. 25: The book opens with two epigraphs, a poem and a song. Why do you think the author chose these? Why do you think he chose to use them together?
“Dan setelahnya, ketika
kami pergi ke luar untuk menatap lenteranya yang selesai dibuat
dari jalan, aku berkata aku suka cara cahayanya
menerangi wajah yang muncul sekelebat dalam gelap.”
-Jack O’Latern,” Katrina Vandenberg dalam Atlas
Ini merupakan penggalan puisi yang menurutku menuntun cerita tentang jati diri manusia.
“Kata orang, teman takkan menghancurkan satu sama lain.
Tahu apa mereka soal teman?”
-”Game Shows Touch Our Lives,” The Mountain Goats
Ini merupakan penggalan lirik lagu yang menurutku menuntuk cerita tentang pertemanan.
Yach ini berkaitan dengan GB alias garis besar cerita Paper Towns yang membahas masalah Q diakhir masa SMA yang memberikan perubahan terhadap kehidupan dan prespektif dalam memandang kehidupan melalui pencarian Margo. Memahami secara mendalam tentang jati diri dan pertemanan.
Question no 27: Discuss the last line of the book, how it relates to the rest of the story, and what it ultimately says about Margo and Q’s relationship.
Q menggambarkan akhir hubungannya dengan Margo seperti senar yang putus. Artinya mereka tidak akan pernah bersama karena mereka telah memutuskan kehidupan mereka masing-masing.
Halaman 350: Kami memainkan senar putus instrument kami untuk terakhir kalinya.
OMG, I really really love and adore this John Green Novel! Mengapa aku betah membaca ini yang biasanya akan termuntah-muntah dengan cerita cinta ala-ala cinta itu buta? Karena cerita ini menurutku sangat indah dan jauh dari kevulgaran atas gembar-gembor drama percintaan ala-ala remaja. Alih-alih novel ini memberikan kita kesadaran atas diri kita dan bagaimana seharusnya kita memandang orang lain. Yupz, aku lebih memilih ini novel filosopi, wkakak, karena sedikitnya bisa mengubah cara pandangku. Setuju banget kalo kadang bahkan kita sering kita menganggap seseorang pantas kita anggap sebagai malaikat, toh mereka juga manusia sama seperti kita. Apa lagi adegan saat Q memilih untuk kembali ke kotanya di mana orang tua dan teman-temannya berada daripada pergi bersama Margo. That’s so rational. Kalau drama-drama mah pastinya Q mengorbankan keluarga dan teman-teman bahkan cita-citanya hanya seorang gadis yang ia anggap seperti dewi. But, it didn’t happen to Q’s story.

thanks ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar